![]() |
ilustrasi http://sandrotob.blogspot.com |
Marini tersenyum…
Pagi yang telah
ditunggu dan menggelisahkannya sejak semalam telah datang. Matanya secerah
langit dan berbinar sebenderang mentari pagi. Senyumnya sama cerianya dengan
suasana pagi ini.
Marini Sudarto.
Demikian namanya
tertera pada tanda pengenal itu. Tanda pengenal dirinya sebagai seorang
wartawan harian lokal.
Marini mengalungkan
tali tanda pengenalnya melingkari leher, dan tanda pengenal itu sendiri masuk
kedalam saku bajunya. Sesaat ia mematut diri didepan cermin, mengedipkan
sebelah mata dan tangan kanannya mengacungkan sebuah isyarat berupa kombinasi
ibu jari dan telunjuknya, “Darrr!”
Ia melangkah keluar
dengan langkah berbeda, jauh lebih bersemangat dari langkah kali pertama saat
dirinya resmi menjadi wartawan.
Sungguh, ini pekerjaan
yang diidamkannya, penuh tantangan dan ia sangat menikmati. Ia ingin harian lokal
itu tak sekedar sebagai koran lokal biasa. Ia ingin ikut memberi warna yang
berbeda. Ia ingin seperti saat membuat majalah dinding sekolah dulu tiba-tiba
menjadi pilihan teman-temannya selain kantin pada jam istirahat, oleh terobosan
yang dilakukannya.
Mewawancarai seseorang,
mengorek hal-hal yang luar biasa dari mereka, mencari sudut pandang dari sebuah
peristiwa, selalu merupakan tantangan yang menghadirkan sejuta sensasi.
“Marini berangkat dulu,
Ma!”
Ia mencium tangan
mamanya yang terduduk lemah disebuah kursi roda. Seperti biasa, mamanya hanya
bisa mengangguk-angguk tanpa bisa berkata apa-apa. Marini tertegun sejenak.
Mama adalah semangat baginya.
-------
Marini tiba di base camp, istilah untuk menyebut sebuah
tempat dipinggiran Kali Progo dimana orang-orang itu bekerja mengumpulkan batu
kali dan dipecahkan secara manual dengan martil untuk membuat batu split.
Dibawah tenda-tenda dari terpal atau plastik.
Entahlah, tiba-tiba ia
tertarik untuk menemui orang-orang itu. Ia melihat mereka ketika ia datang
ditempat itu untuk meliput berita saat Jembatan Trinil yang berada didekat base camp yang ambrol beberapa bulan
sebelumnya. Wajah-wajah memelas perempuan-perempuan yang duduk seharian
memecahkan batu-batu. Ia ingin mencari sisi lain yang mungkin tak pernah
terangkat kepermukaan.
“Selamat pagi, Ibu!”
Marini menyapa seorang perempuan tua. Ia berlindung dibawah sebuah tenda
plastik, tangannya terus memukul dan memukul. Tempatnya agak berjauhan dengan yang
lainnya.
“Selamat pagi.” jawab
perempuan tua itu. Ekspresinya tampak datar saja pada Marini. Mulanya Marini
sedikit merasa tak berlega hati ketika keramahan dan senyum yang ia tawarkan
untuk menjalin keakraban tak bersambut. Tapi sesaat kemudian ia mencoba untuk
memakluminya saja, mungkin kekerasan batu-batu itu tidaklah seberapa keras dari
keras hidupnya, hingga ia pun sekeras dan sedingin batu.
‘Batu juga bisa dipecahkan!’ batin Marini kemudian untuk menghibur
hatinya sendiri.
Saat menerima jabat
tangan Marini pun, wajah perempuan tua itu tetap datar tanpa senyum sedikitpun,
bahkan sorot matanya menyiratkan tatapan penuh kecurigaan.
“Saya Marini, boleh
saya tahu nama Ibu?”
“Rujiyah…” perempuan itu
ragu-ragu menyebut namanya sendiri. Marini kembali menawarkan senyumnya. Perempuan
itu meliriknya sekilas dengan tangannya tetap pada pukulan demi pukulannya.
“Kalau boleh saya tahu,
Ibu Rujiyah tinggal dikampung mana?”
“Di atas sana, Mbak!”
jawab perempuan tua singkat sambil
mengangkat tangan kanannya yang memegang martil menunjuk kearah
belakangnya. Marini mengerti. Pandangannya menyeberang Kali Progo dan menaiki
jalanan menanjak kearah barat, kearah dimana Gunung Sumbing berdiri biru tegak.
“Semua orang itu juga
dari kampung Ibu?”
Perempuan itu menggeleng,”Ada
beberapa yang dari kampung lain.” katanya,”Ada apa, Mbak?”
Marini mencoba tetap
tersenyum meskipun ia merasakan ketidakramahan perempuan tua itu. Perempuan tua
itu tak seperti kelihatannya yang memelas. Kata-katanya tak ubahnya batu-batu
yang sedari tadi dipukulinya.
“Tidak ada apa-apa Ibu,
saya hanya sering lewat jalan sini, melihat Ibu dan teman-teman Ibu yang lain
bekerja keras memecah batu.” jelas Marini, sebisanya ia terus mencoba meruntuhkan
kekakuan perempuan itu.
“Saya kira Mbak ini
wartawan!” kata perempuan itu. Marini merasa darahnya tersirap demi mendengar
ucapan perempuan itu. Memang kenapa kalau wartawan? Pikirannya mengurai
bermacam pertanyaan. Janggal rasanya mendengar kata-kata demikian dari perempuan
dengan mimik wajah memelas itu. Adakah sesuatu disini?
Mestinya begitu, kalau
tidak, tak mungkin perempuan itu bersikap demikian tak bersahabat dan
melontarkan kata-kata seperti itu. Marini tiba pada sebuah kesimpulan.
Kesimpulan yang membuat rasa ingin tahu memenuhi benaknya.
“Saya bukan wartawan
Bu.” Marini memilih tak mengakui dirinya. Mungkin ini tidaklah baik, tapi
rasanya ia takkan mendapatkan apapun kalau ia mengakui dirinya. Perempuan itu,
dan mungkin orang-orang disini tak menginginkan wartawan. Kata-kata perempuan
itu sepertinya bukan kata-kata yang lahir dari pemikirannya sendiri.
Sekarang perempuan itu
tersenyum. Jadi itu? Ada apa ini?
Bersambung.
4 komentar