![]() |
ilustrasi http://kisahislamiah.blogspot.com |
Tak pernah anak gadis itu beranjak dari
rumah, kecuali saat pagi memaksanya harus ke sekolah. Ia akan lebih senang
untuk berada didalam rumah, memberikan seluruh waktu dan minatnya hanya pada
kucing. Dua ekor kucing!
Kulitnya pucat karena hampir tak pernah
bersentuhan dengan lebih banyak sinar. Matanya cekung dan otot di dahinya
tampak membiru. Kucing dan hanya pada dua kucingnya saja ia seakan mempunyai
cinta. Jika pun cakar kucing itu merobek kulitnya saat mereka bercanda, ia baik-baik
saja. Tapi ia akan mengumpat ketika nenek dan ibunya terlambat sedikit saja
untuk sesuatu yang diperintahkannya.
Ia memilih tak keluar dari kelas saat
teman-temannya berhamburan kian kemari saat istirahat di sekolah. Olahraga
adalah sesuatu yang sangat dibencinya. Tapi selalu tak pernah ada pilihan untuk
boleh tak mengikutinya. Ia merasa cahaya membuatnya tak berdaya. Kalau boleh
memilih, ia lebih suka ngeloni kucingnya, atau bercanda dengan mereka. Tak
perlu berkeringat.
Mereka tinggal bertiga saja dalam rumah
itu. Tak ada orang laki-laki didalamnya. Kakeknya mati beberapa tahun
sebelumnya. Mati tanpa seorangpun tahu, malam berpamitan untuk menengok aliran
air ledeng dan sampai pagi tak juga pulang sampai kemudian neneknya menemukan
kakeknya telah terbujur kaku dibawah bak penampung dan pembagi air. Mungkin
ingin memanjat dan jatuh. Setahun setelahnya bapak gadis kecil itu secara
mengenaskan mati saat bekerja. Ia tertimpa kayu balok besar di tempatnya
bekerja sebagai tukang kayu.
Jadi hanya gadis kecil itu, sang ibu dan
neneknya. Nenek dan ibu yang membiarkan apapun yang diinginkannya. Lalu kedua
kucing kesayangannya. Kucing yang selalu menyantap makanan dari piring yang
sama dengannya. Tetangga yang mual melihat kebiasaan itu menanyakan pada nenek dan
ibunya.
"Ia tak mau makan kecuali dengan
kedua kucingnya!" Kata sang nenek pada tetangga.
"Tapi mestinya itu berbahaya bukan?
Mulut kucing mengandung bakteri berbahaya untuk manusia! Bagaimanapun kucing
itu adalah hewan. Jika manusia saja bisa mengkhianati yang lainnya, apa nenek
yakin kucing itu takkan mencelakainya?" Kata tetangga.
"Aku ingin membuatnya bahagia, bukan
mengusiknya!" Sahut sang nenek. Lalu tetangga itu diam, bagaimanapun ia
tetangga, tak bisa berbuat lebih banyak.
Bagi sang nenek, kata-kata tetangga hanya
terdengar sebagai kata-kata yang berasal dari iri. Mereka tak senang lalu
mengatakan hal itu, seakan mereka tak ingin cucunya celaka. Padahal semua itu
hanya karena mereka iri, mereka sinis, dan begitulan mereka selalu.
-----
Gadis itu tumbuh semakin malas. Wajahnya
semakin kuyu dan hidungnya hampir tak pernah berhenti mengeluarkan lendir
sehingga pada bagian atas bibirnya hingga hidung tampak memerah dan lembab oleh
lendir.
Kedua kucing itu tidur dalam pelukannya
setiap malam. Pada pagi hari, ia dan kedua kucingnya sama-sama tak ingin
berpisah. Setelah menyiapkan semua keperluan sekolahnya, maka sang nenek harus
menahan kedua kucing yang meronta ingin mengikuti si gadis ke sekolah.
Siangnya, kedua kucing itu akan menghambur
padanya dengan segala kerinduan pada tuan mudanya. Begitupun sebaliknya. Maka
mereka akan bercengkerama setelah lebih dulu menikmati santap siang dari piring
bersama-sama.
Menjelang malam, gadis kecil itu masih
tergolek ditempat tidurnya bersama kedua kucing kesayangannya. Ia nyaris tak
bergerak. Nafasnya mengeluarkan bunyi, "Ngik, ngik, ngik!" terus
menerus. Nenek dan ibunya memanggilnya untuk makan malam. Tapi ia hanya mampu
mendengarnya saja. Ia menggigil kedinginan dengan kedua kucing itu meringkuk
hangat di dadanya.
Lama tak mendapati cucunya keluar dari
kamar, maka sang nenek melihatnya. Yang terlihat adalah sang cucu menggigil
dengan lendir yang terus mengucur dari hidungnya. Sepasang matanya redup lalu
bibirnya bergetar hebat. Ia tiba-tiba kebingungan, dan berlari keluar mendapati
ibu si gadis yang sedang duduk malas didepan tivi.
"Anakmu!" Serunya.
"Biarkan dia tidur saja! Daripada
mengamuk!" Sahut sang ibu tanpa mengalihkan mata dari layar tivi.
"Lihat! Kau harus membawanya ke
dokter!"
"Ke dokter? Kenapa?"
Sang nenek merasa kesal dan mematikan tivi
itu secara kasar. Barulah kemudian ibu si gadis tampak memperhatikannya. Sang
nenek kembali ke kamar diikuti anaknya.
-----
"Sudah terlambat!" Kata dokter.
"Mungkin jika kemarin hari, anak ibu bisa tertolong!"
Seorang tetangga tampak tak sabar melihat
sang nenek dan ibu si gadis tak tampak sedih dengan kenyataan yang terjadi pada
anak dan cucunya.
"Terlambat dokter?"
"Dia terkena rabies! Sudah lama, tapi
bagaimana baru dibawa sekarang?"
"Dia hanya tak bersama kedua
kucingnya di sekolah saja! Kucing itu bersamanya setiap waktu, akan ada dalam
pelukannya setiap tidur, dan menyantap makanan dari piring yang sama
dengannya!" Kata tetangga.
Dokter itu menurunkan kaca matanya. Kedua
matanya membulat tak percaya.
"Begitulah yang terjadi! Kami sering
mengingatkannya, tapi entahlah! Kami tak ingin mengatakan mereka bodoh, tapi
begitulah yang terjadi. Lihat! Mereka tak tampak khawatir!"
Dokter mendekati sang nenek dan ibu si
gadis. Memberitahu mereka tentang anak dan cucu mereka. Sesaat kemudian
keduanya menghambur kedalam ruangan, dimana pada sebuah tempat tidur, anak cucu
mereka terbujur diam. Lendir telah berhenti mengalir dari hidungnya.
6 komentar